Kamis, 16 Januari 2014

Sebuah Renungan untuk Dipahami

Om Suastiastu,

   Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, saya mempersembahkan blog "Sentana Dalem Tarukan" adalah untuk mengingat kembali alur sejarah dan perjalanan leluhur kita yang menjadi tonggak sejarah bermulanya atau berawalnya Warih Dalem atau Sentana Dalem atau keturunan dinasti Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan pada umumnya maupun Para Gotra Sentana Dalem Tarukan khususnya.   Sumber serta asal tulisan yang saya himpun  adalah berasal dari berbagai sumber, baik dari literatur cetak atau buku maupun dari media elektronika dan internet.  Besar harapan saya seluruh informasi yang saya berikan melalui blog ini dapat memperkaya khasanah pengetahuan dan pemahaman kita terhadap sejarah para leluhur yang telah mendahului kita sehingga hikmahnya dapat selalu kita ingat dan meneladani hal-hal positif yang telah diajarkan dan disampaikan baik secara lisan (wahyu atau bhisama) maupun tulisan (sastra atau arsip) guna  dijadikan pedoman untuk mejalani kehidupan di dunia (samsara) dengan tujuan untuk mencapai Moksa.
    Dalam roda kehidupan manusia selalu terdapat dua hal yang mendasar, yakni positif dan negatif, kebenaran dan ketidakbenaran, kebaikan dan ketidakbaikan, putih dan hitam dan sebagainya. Dua hal ini pula yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang dapat dimuliakan atau bahkan direndahkan di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tentunya kita semua menginginkan hal yang terbaik dapat terwujud, namun apakah hal yang terbaik menurut pandangan kita tersebut adalah baik menurut sudut pandang orang lain atau bahkan menurut ajaran Agama Hindu.  Seperti ungkapan "Aku adalah Kamu" yang merupakan pengertian dari Tat Twam Asi.  Secara sederhana jika diambil makna dari kalimat "Aku adalah Kamu" adalah apa yang bisa dirasakan oleh "Aku" akan dapat dirasakan juga oleh "Kamu", jika memang diri kita tidak senang diejek, janganlah mengejek orang lain, bila kita ingin dihargai oleh orang lain maka hargailah juga orang lain.  Hal tersebut seperti sebuah mata rantai yang terjalin dan saling mengikat satu sama lain, apabila hal ini dikaitkan dengan Hukum Karma atau Karmapala tentu saja akan saling berhubungan karena Karmapala itu adalah hasil dari perbuatan yang kita lakukan, baik terhadap sesama maupun terhadap makhluk lain di dunia.

    Dengan melihat fenomena dunia akhir-akhir ini, kita menyadari bahwa moral dan perilaku manusia semakin merosot.  Sangat jarang terlihat di perumahan Real Estate kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal, semua hal diselesaikan dengan uang.  Ada uang semua permasalahan dapat diselesaikan, termasuk juga Hukum dan Perundang-undangan. Kasus korupsi merajalela, teroris diman-mana, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan dan segudang permasalahan sosial kemasyarakatan semakin merusak tatanan kehidupan manusia yang dahulu awalnya diciptakan adalah untuk saling mengasihi dan menyayangi.  Lalu tujuan akhir hidup kita ini apa? Apakah harta, tahta dan wanita akan dapat mengirim kita ke surga?  Dari sudut hati kita yang paling dalam dapat kita temukan kasih sayang serta kedamaian yang dahulu pernah ada bersemi dengan indahnya.  Mari kita sambut dunia ini dengan penuh kebaikan, kedamaian, kasih sayang dan kebahagiaan dengan lebih banyak menabur benih-benih kebaikan dalam diri sendiri dan sekelilingnya.  Hanya dengan perbuatan yang baik akan mendapatkan pahala yang baik, hanya dengan kerendahan hati dan keikhlasan dapat ditemukan jalan terang menuju Moksartham Jagaditha Yacca Iti Dharma.